Asal usul Majalah di Dunia dan Indonesia

Prolog

Printer Tua. Source: Pixabay

Dunia cetak-mencetak mulai mengalami kemajuan yang tak ada hentinya semenjak dikembangkannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg tahun 1455. Mesin cetak ini merupakan mesin pertama kali yang menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan di Eropa.

Penemuan ini dapat meningkatkan efisiensi kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku dan majalah dari sebelumnya. Keberadaan majalah sebagai media massa mulai bermunculan tidak lama setelah surat kabar. Sejarah majalah diawali dari negara-negara Eropa khususnya Inggris, dan benua Amerika khususnya Amerika Serikat.

AHLAN!!! MAGAZINE

   Di Amerika, tahun 1820–1840-an merupakan zamannya majalah (the age of magazines). Majalah yang paling populer saat itu adalah Saturday Evening Post yang terbit tahun 1821, dan ⁷North American Review. Perubahan besar dalam industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, ketika S.S. McClure, Frank Musey, Cyrus Curtis, dan sejumlah penerbit lain mulai mengubah industri penerbitan majalah secara revolusioner. Curtis lalu menerbitkan majalah khusus kaum ibu, Ladies’ Home Journal, yang kemudian menjadi majalah pertama yang mencapai 1 juta pembaca. Majalah-majalah khusus seni dan arsitektur, kesehatan, dan sebagainya juga mulai ikut bermunculan. Terjadilah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi. Untuk mempercepat produksi, majalah banyak memperkerjakan seniman yang masing-masing membuat gambar, lalu disatukan sebelum digunakan sebagai materi cetakan. Teknik cetak foto modern jelas serba lebih mudah. Pengiriman foto juga gampang dilakukan sejak adanya kamera saku dan jasa pencetakan dan pengiriman foto kilat sejak 1935.

Mesin Cetak. Source: Pixabay

Tokoh Pelopor Majalah

Penelusuran sejarah perkembangan media massa tidak akan bisa lepas dari tokoh yang memprakarsai atau menerbitkan media massa tersebut. Hal itu terbukti pada catatan-catatan sejarah mengenai majalah.

Berikut beberapa tokoh yang tercatat oleh sejarah sukses menerbitkan majalah yang menjadi tonggak perkembangan salah satu media cetak ini;

  1. Benjamin Franklin
Benjamin Franklin. Source: Pixabay

     Dialah yang telah memelopori penerbitan majalah di Amerika. Pada tahun 1740, dia menerbitkan General Magazine dan Historical Chronicle.

2. DR Wahidin Soedirohoesodo[1]

     Dia lahir di Desa Mlati, 7 Januari 1857. Saat muda, Wahidin meniti pendidikan di bangku Sekolah Ongko Loro (Sekolah Desa) di desanya. Lalu, dia meneruskan sekolahnya di Lagere School Yogyakarta dengan pertolongan iparnya, seorang administrator pabrik gula di Wonolopo, Sragen, Surakarta. Hingga akhirnya, dia pun mengabdikan diri pada almamaternya.

     Pada 1890, pertama kalinya Wahidin mengukir karier di bidang jurnalistik. Dia bergabung dengan awak redaksi surat kabar Retno Doemilah. Media yang dipilihnya ini berbahasa Jawa dan Melayu terbitan Yogyakarta.


[1]https://nasional.okezone.com/amp/2017/02/08/337/1612957/dr-wahidin-soedirohoesodo-pelopor-jurnalistik-di-masa-pergerakan

Sejarah Majalah di Indonesia

Sejarah keberadaan majalah sebagai media massa di Indonesia dimulai pada masa menjelang dan awal kemerdekaan Indonesia.

Di Jakarta pada tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama Pantja Raja pimpinan Markoem Djojohadisoeparto dengan prakarsa dari Ki Hadjar Dewantoro, sedang di Ternate pada bulan Oktober 1945 Arnold Monoutu, dan dr Hassan Missouri menerbitkan majalah mingguan Menara Merdeka yang memuat berita siaran dari Radio Republik Indonesia (RRI).

Awal kemerdekaan

   Soemanang SH yang menerbitkan majalah Revue Indonesia, dalam salah satu edisinya pernah mengemukakan gagasan perlunya koordinasi penerbitan surat kabar, yang jumlahnya sudah mencapai ratusan.

   Semuanya terbit dengan satu tujuan, yaitu menghancurkan sisa-sisa kekuasaan belanda, mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.

Zona Orde Lama
Majalah tua. Souce: pixabay

   Pada masa ini, perkembangan majalah tidak begitu baik, karena relatif sedikit majalah yang terbit. Sejarah mencatat majalah Star Weekly, serta majalah mingguan yang terbit di Bogor bernama Gledek, namun hanya berumur beberapa bulan saja.

Zona Orde Baru

   Awal orde baru, banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya, di antaranya majalah Selecta pimpinan Sjamsudin Lubis, majalah sastra Horison pimpinan Mochtar Lubis, Panji Masyarakat dan majalah Kiblat.

   Hal ini terjadi sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang semakin baik, serta tingkat pendidikan masyarakat yang semakin maju.

Kategorisasi Majalah yang terbit pada Masa Orde Baru, yakni :  

Majalah kekinian. Source: Google
  1. Majalah berita: Tempo, Gatra, Sinar, Tiras
  2. Majalah wanita: Femina, Kartini, Sarinah
  3. Majalah pria: Matra
  4. Majalah anak-anak: Aku Anak Saleh
  5. Majalah hukum: Forum Keadilan
  6. Majalah pertanian: Trubus.
  7. Majalah olahraga: Sportif, Raket
  8. Majalah berbahasa daerah: Mangle (Sunda, Bandung), Djaka Lodang (Jawa, Yogyakarta)

   Demikian yang dapat kami sampaikan, permohonan maaf kami bila terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Karena sejatinya kita crew Ahlan Magazine hanyalah manusia biasa yang selalu berbuat salah. Terima kasih untuk kalian yang tetap setia mengeja aksara kami, stay positive and creative. Dan jangan lupa selalu menjaga protokol kesehatan untuk memutus mata rantai virus covid-19.

God bless you all. (DRS)

Referensi;

  1. Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia karya Taufiq Rahzen.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *